Foto di atas diambil pada 1969.
Seorang yang mewarnai dunia sastra modern Indonesia telah berpulang. Sang burung merak, Willy Brodus Surendra Broto yang kemudian berganti nama menjadi Wahyu Sulaiman Rendra setelah dirinya muslim, menjalani perawatan jantung sejak setahun lalu. Berkali-kali ia masuk rumah sakit, sebelum akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya di kediaman salah satu putrinya, Clara Shinta, di Perumahan Pesona Kayangan, Depok, Bogor 6 Agustus 2009.
Pria kelahiran 7 November 1935 ini mendirikan Bengkel Teater pada 1967 di Yogyakarta juga di Depok, Jawa Barat.
Pemikirannya yang brilian tentang bangsa Indonesia dan perlawananannya pada ketidakadilan adalah sumbangan terbesar bagi negara ini.
Agaknya si Burung Merak hendak memamerkan bulu-bulunya di surga. Selamat jalan Rendra.
Dalam salah satu pembacaan puisi
Berikut ini adalah salah satu sajaknya
Sajak Sebatang Lisong
menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langitdua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
Jadi ingat masa lalu. Sajak ini kubawakan saat mengikuti PORSENI waktu SMP dulu.
BalasHapusSatu lagi seniman kita berpulang. Selamat jalan si burung merak ....